Modernisasi ‘Dagang’ Merchandise Yang Kadaluarsa

Dalam dunia industri musik bagi masyarakat mungkin hanya pemain bandnya saja yang dilirik, namun seharusnya perlu juga dilihat orang-orang yang berada di balik mereka. Seperti apa sih para manager band dalam mengatur para pemain bandnya, membikin merchandise untuk fans, bagian legalnya, dll. Jadi berbicara industri musik ini tidak melulu soal pemain bandnya. Masalah tersebut menjadi krusial jikalau tidak dilihat dari aspek secara keseluruhan.

Nah, apalagi sekarang sudah zaman digital, jadi buat para seorang seniman ataupun musisi yang berjuang seperti saat sekarang ini, langkah atau strategi apa sih yang bisa memberikan “nafas” buat tampil lebih eksis agar tampil dikenal lebih lama. Jawabannya yaitu merchandise.

Bandingkan dengan rekaman, publisher dan sistem bisnis tiket dimana sudah dirasakan pada zaman teknologi sekarang ini seperti sudah umum adanya, sebaliknya kalau berbisnis merchandise memang prospek kedepannya lebih cerah namun, kebanyakan hanya terjebak didalam tahun 70an, belum modern secara penyajian.

Sebagian besar musisi hanya menjual 85% atau lebih di meja-meja booth ketika mereka konser, semestinya pada era teknologi yang sudah mewabah, merchandise musik dapat dibawa kedalam ranah digital.

Berikut beberapa perbedaan penjualan merchandise analog dengan penjualan digital:

  1. Fans sejati harus mempunyai sesuatu merchandise dari seorang idolanya, tapi tidak semua yang disebut fans mengetahui letak stan dari idolanya berada, lalu kemanakah fans potensial yang bisa diraih, kalau dari penjualan digital pasti mencakup semua dari segala belahan dunia dan dari segala usia.
  2. Mengetahui stan idolanya sudah, lalu para fans yang ingin membeli merchandise sudah penuh berjubel, antri, sumpek, kalau digital tidak perlu mengantri dong, cukup dari tempat duduk Anda sudah dapat dipesan.
  3. Membeli merchandise sudah terpenuhi meskipun dengan keluh kesah karena mengantri, memborong pula lagi membelinya. Nah, kemudian merchandise tersebut Anda bawa terus-menerus belum lagi kalau ketemu dengan macet di jalan, tidak maukan kamu bisa agar langsung dikirimkan ke rumah? Penjualan digital bisa menjawab hal itu.
  4. Bayangkan tentang sesuatu hal yang ekslusif, tidak dijual di toko umum. Terus kalau merchandise berbentuk sesuatu yang besar tentu secara personal juga sangat berarti buat Anda sebagai penggemar setia yang bisa didapatkan di dunia digital.

Berlanjut berbicara mengenai sebuah brand, lihatlah apa yang Deadmau5 lakukan dengan kepala Gufi mousenya. DJ ini memiliki merchandise di mana-mana dan menjadi idola bagi para remaja, penjualannya juga hampir mendekati tokoh lucu Mickey Mouse, bahkan sempat ada gugatan dari pihak Mickey Mouse karena penjualan merchandisenya yang laris dikarenakan tokohnya menyerupai tikus lucu tersebut.

Beats by Dr. Dre juga contoh lain dari merchandise yang penjualannya telah melampaui dari albumnya sendiri, dan produk tersebut juga telah menjadikan gaya hidup yang lebih besar dalam industri musik, padahal gagasan awalnya penyanyi rap AS Dr. Dre ini, hanya ingin mendengarkan musik melalui headphone berkualitas tinggi, dengan sistem suara yang juga bagus. Dr. Dre telah mengambil sebuah merek dan dalam prosesnya mengubah menjadi industri musik masa depan, melalui strategi merchandising. Dan diketahui dari penjualan merchandise Dr. Dre sempat menjadi World’s Highest Paid Musicians. Wow!!

Bukankah masuk akal ketika musisi yang sudah sering tampil saja perlu dibuatkan merchandise kepada para penggemarnya agar mempunyai pendekatan yang berlebih, bagaimana kalau musisi yang sudah jarang tampil lalu tidak pula mempunyai merchandise untuk dibagikan kepada penggemarnya, tidak perlu diramal kalau sudah begini, pasti Anda sudah tahu arah jawabannya kemana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*